Skip to main content

Posts

Jus Seledri : The Miracle Juice

  Siapa yang pernah mengalami sakit maag? Refluks asam lambung, gastritis, tukak lambung, dan lainnya. Pasti ga enak banget rasanya. Aku pun salah seorang yang lambungnya bermasalah dari sejak SMA. Waktu jaman SMP aku sering mengalami radang tenggorokan, ke dokter, diberi antibiotik. Setahun bs 2x aku radang tenggorokan. Aku ingat pernah kambuh sakit maagku waktu libur kuliah sampai muntah-muntah berhari-hari, banyak gas, ga bisa makan dan berat badan turun. Setelah terdiagnosa MS, aku diberi methylprednisolone (steroid) dosis tinggi yang bisa mengiritasi lambung. Lima kali aku menerima infus methylprednisolone dosis tinggi ini dari awal terdiagnosa MS dan kambuh di tahun 2011 - 2012 . Setiap kali diinfus karena kambuh, prosedurnya 3 hari infus steroid 1gr/hari. Kemudian diturunkan dosisnya pelan-pelan sampai bisa diminum dan akhirnya stop obat, itu makan waktu sebulanan. Jadi sebulan konsumsi steroid terus, berulang sampai 5x. Ditambah tahun 2013 aku mencoba treatment dengan R...
Recent posts

My Healing Journey (part-1)

  Setelah melakukan diet Medical Medium dari awal 2019 hingga saat ini (September 2026), aku masih belum 100% pulih. Tapi dibanding dengan pengobatan yang kucoba selama ini, baik secara medis maupun alternatif, baru kali ini ada hasil nyata yang kualami berupa perbaikan dari gejala-gejala yang ada di dalam tubuhku. Awalnya tahun 2018, setelah mencoba berbagai pengobatan alternatif dan juga medis yang tidak bisa memperbaiki gejala-gejalaku. Aku merasa kalau aku ga melakukan perubahan apapun dalam hidupku, ga akan ada perubahan yang terjadi dengan penyakitku. Dari situ terpikir untuk mencoba merubah dietku dengan pantang gluten awalnya. Karena aku ga bisa menyiapkan makananku sendiri, juga mama dan pembantuku sudah tua jadi tidak bisa banyak masak lagi, jadi aku mencari katering yang bisa menyiapkan makanan bebas gluten. Akhirnya ketemulah katering paleo diet yang menyediakan menu tinggi protein, sayuran dan sedikit karbo. Aku ingat, protein hewani yang diberikan dalam jumlah jauh l...

How to Heal

Berita kematian artis Vidi Aldiano pada 7 Maret 2026 yang lalu cukup mengagetkan walau bukan fans atau follower- nya, tapi aku cukup relate dengan kondisinya. Mendengar kisah perjuangan Vidi melawan sakit kanker ginjal yang diderita selama 6 tahun terakhir, yah aku bisa mengerti bagaimana rasanya, keputusasaan menghadapi gejala yang makin memburuk, ingin menyerah ketika badan ini tak lagi bisa berfungsi, apalagi ditambah rasa sakit yang dialami pasti sangat sulit. Ga akan ada orang yang bisa mengerti, kecuali dia pernah mengalami sakit seperti itu juga. Tapi tahukah kamu, kalau Tuhan ingin kita sembuh? Bahkan Tuhan sudah memberikan obatnya di alam ini, melalui ciptaan-Nya yang sempurna. Bukan obat kimia buatan tangan manusia. Melainkan, tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber makanan untuk tubuh kita dan sebagai obat herbal yang tanpa efek samping seperti obat kimia. Itulah obat sejati yang telah Tuhan sediakan. Seperti dijelaskan oleh Medical Medium dalam bukunya, podcast ataupun so...

Kondisi Terang

"If you know the truth, the truth will set you free" Ketika teman-teman berada dalam ruangan yang gelap ketika mati lampu rasanya ga nyaman bukan? Kita ga bisa melihat apa-apa dan ga tau jalan menuju pintu. Bandingkan ketika ada cahaya yang terang dan kita bisa melihat dengan jelas, pasti akan terasa lebih nyaman karena kita bisa melihat area sekitar dan juga pintu. Begitu pula ketika menghadapi penyakit autoimun yang belum diketahui penyebabnya dan obat untuk menyembuhkannya, rasanya seperti berada dalam ruangan gelap tersebut. Tidak tahu harus bagaimana, hanya menuruti kata dokter dan menerima pengobatan yang disarankan dokter, tidak bisa menyembuhkan hanya bisa meredakan gejala, bahkan muncul efek samping yang tidak diinginkan. Mendapat pengertian tentang penyebab penyakit autoimun yang sebenarnya, itu saja sudah setengah jalan menuju kesembuhan. Sekarang kita hanya perlu mengeliminasi si " culprit " itu, yaitu patogen (virus/bakteri) dan toksin/racun yang ada...

Titik Balik

Bermula pada akhir tahun 2018, dengan kondisi berjalan yang mulai menurun, bahkan untuk berjalan dari kamar mandi ke kamar tidur saja sudah melelahkan. Mengangkat kaki untuk menaiki anak tangga juga sudah berat. Aku berseru kepada Tuhan, aku ga tau harus bagaimana lagi, semua pengobatan alternatif sudah kucoba, bahkan sampai yang termahal yaitu stem cell sudah kujalani tanpa ada hasil. Hanya kondisiku yang terus menurun. Bahkan aku mengalami kista Bertoulli di selangkanganku yang mengharuskan aku dioperasi untuk menyedot nanah yang ada. Akhirnya aku berseru pada Tuhan, aku ga mau hidup seperti ini lagi, lebih baik aku meninggalkan dunia ini daripada hidup menjadi beban untuk suami dan keluargaku. Lalu jawaban Tuhan datang pada bulan Januari 2019, ketika sedang scrolling video youtube untuk ditonton, aku menemukan video tentang jus seledri, yang akhirnya mengantarku kepada Medical Medium dan pengetahuan tentang dunia kesehatan yang tidak seperti diajarkan oleh dunia kesehatan pada u...

Pengalaman Diopname (part-2)

Tahun 2013 aku mulai mencoba pengobatan alternatif, awalnya teori tentang kelainan pembuluh darah vena di daerah leher atau disebut CCSVI (Chronic Cerebrospinal Venous Insufficiency). Akhirnya kami berhasil mendapatkan kontak dokter interventional radiologi di Siloam Karawaci yang bisa melakukan tindakan pengecekan CCSVI ini dengan melakukan venography . Dan kebetulannya lagi, dokter radiologi tersebut ternyata mengenal dokter radiologi di Amerika yang menggeluti bidang CCSVI ini. Akhirnya setelah dilakukan venography , hasilnya dikonsultasikan ke dokter Amerika dan didapati kemungkinan aku mengalami CCSVI, tapi tidak ada dilakukan tindakan intervensi. Akhirnya tahun yang sama, aku menjalani treatment dengan Rituximab yang bertujuan melemahkan sistem imunku, sepulang infus Rituximab yang dilakukan dengan opname beberapa hari di RS Royal Progress, aku dibekali dengan berbagai macam obat antivirus, antibiotik, dll. Setelah itu, aku merasa kondisi tubuhku makin melemah, juga kondisi l...

Pengalaman Diopname (part-1)

Mendengar sepupuku ada yang masuk rumah sakit membawa ingatanku kembali pada tahun 2010-2012 silam ketika aku beberapa kali harus diopname karena sakit MS-ku kambuh. Betapa repotnya suamiku yang ketika itu masih bekerja dan harus bolak balik kantor - rumah sakit setiap hari. Namun, ada juga kisah-kisah kami bertemu dengan pasien lain yang kebetulan dirawat di kamar yang sama karena dari kantor kami dapat fasilitas kamar kelas 1 yang bisa diisi oleh 2 orang pasien. Pertama kali dirawat itu tahun 2010 di RS Siloam Karawaci yaitu sejak aku terdiagnosa MS, infus steroid dosis tinggi dilakukan selama 3 hari dan tappering off (diturunkan dosisnya pelan-pelan) sampai 2 minggu. Di saat yang sama, suami yang merawatku terkena DB dan akhirnya dirawat juga. Untungnya saat itu, aku masih kuat berjalan dan bisa mengurus suami yang sakit juga. Kedua kali dirawat di awal tahun 2011 di RS yang sama karena kambuh. Tak lama kemudian, aku resign dari pekerjaanku dan mulai mencoba diet sehat yang waktu...